
SUAKA – KOTABARU. Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Kotabaru, Ir. Sarawani, S.Pi., MP, mendorong percepatan ekstensifikasi lahan sawah melalui program Cetak Sawah Rakyat (CETAR). Langkah strategis ini diambil untuk memperkuat ketahanan pangan daerah di tengah tantangan penurunan produksi padi, alih fungsi lahan, keterbatasan infrastruktur, serta perubahan iklim.
Sarawani menegaskan bahwa persoalan pangan tidak bisa diselesaikan hanya dengan menjaga lahan yang sudah ada. Data produksi padi Kotabaru menunjukkan fluktuasi yang perlu diwaspadai, 2020: 34.709 ton, 2021: 38.497 ton – mencapai puncak, 2022: 24.025 ton – turun tajam, 2023: 17.299 ton – titik terendah, 2024: 19.926 ton – mulai membaik, namun belum cukup.
“Angka ini harus kita baca sebagai peringatan. Kita tidak boleh merasa cukup hanya karena produksi naik sedikit. Yang kita bangun adalah sistem pertanian yang kokoh dan berkelanjutan,” ujar Sarawani, kamis (24/9/2026).

Masalahnya bukan sekadar luas lahan, melainkan ketersediaan air, jaringan irigasi, jalan usaha tani, sarana produksi, hingga regenerasi petani yang semakin mendesak.
Program (CETAR) dirancang cermat. Setiap lokasi calon sawah baru akan diperiksa secara ketat, kesesuaian lahan, sumber air, status tanah, akses jalan, ketersediaan petani, hingga sarana produksi.
“Jangan sampai sawah sudah dicetak tapi tidak bisa ditanam karena tidak ada air atau tidak ada petaninya. Satu hektare yang benar – benar produktif jauh lebih berharga daripada sepuluh hektare yang hanya tertulis di atas kertas,” tegasnya.
Jangka menengah, 250–500 hektare di lokasi prioritas, Jangka panjang: 1.500–3.000 hektare.
Keberhasilan tidak diukur dari seberapa luas lahan yang dibuka, melainkan, Berapa hektare yang benar – benar ditanami, Berapa hasil panen yang didapat, Apakah pendapatan petani meningkat.
(CETAR) bukan tugas DKPP sendirian. Dibutuhkan kolaborasi erat bersama TNI/Kodim 1004, BPN, Dinas PUPR, Bappeda, pemerintah kecamatan dan desa, penyuluh pertanian, hingga kelompok tani dan Gapoktan.
Selain membuka lahan baru, pendampingan petani juga diperkuat – mulai dari benih unggul, pupuk, alat mesin pertanian, penyuluhan, hingga penguatan kelembagaan. Sarawani juga menekankan pentingnya menarik minat generasi muda ke dunia pertanian.
“Pertanian harus menjadi bidang yang menjanjikan, bukan pekerjaan yang dipandang sebelah mata. Kalau ingin ketahanan pangan bertahan 10–20 tahun ke depan, regenerasi petani harus disiapkan dari sekarang.”
Teknologi, pemetaan modern, mekanisasi, hingga pemasaran digital akan terus diperluas. Sawah yang sudah terbentuk juga akan dilindungi agar tidak kembali beralih fungsi.
“Swasembada pangan tidak lahir dari slogan. Harus ada lahannya, petaninya, airnya, infrastrukturnya, dan produksi yang terus berjalan. (CETAR) bukan hanya mencetak sawah, melainkan mencetak masa depan pangan Kotabaru,” pungkas Sarawani.

Di kesempatan yang sama, DKPP Kotabaru turut memperingati Hari Tani Nasional, 24 September 2026. Sarawani menyampaikan apresiasi tulus.
“Jaya terus petani Indonesia. Terus hadirkan hasil tani berkualitas untuk negeri. Petani, pahlawan pangan bangsa.”
Dengan semangat “Saijaan Eksis dengan Cetar”, seluruh elemen diharapkan bersatu – memperluas lahan sawah, meningkatkan produksi, menyejahterakan petani, dan mewujudkan visi Kotabaru Hebat yang mandiri pangan. (red)
Dibaca 2 kali.