SUAKA – KUALA LUMPUR. Penurunan hujan deras dan badai petir di kawasan Lembah Klang dalam beberapa hari terakhir belum mampu menghilangkan fenomena kabut asap lintas batas yang melanda Malaysia.
Departemen Meteorologi Malaysia (MetMalaysia) mengonfirmasi bahwa hujan hanya memberikan efek pembersihan sementara. Direktur Jenderal MetMalaysia, Mohd Hisham Mohd Anip, menyatakan bahwa penyebab utama bertahannya kabut asap adalah pergerakan asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia yang terus terbawa angin melintasi perbatasan.
“Saat ini Malaysia sedang berada dalam fase peralihan monsun dengan pola angin lemah berkecepatan bervariasi. Hal ini memang memicu pertumbuhan awan hujan dan badai petir pada sore hingga malam hari, tetapi tidak serta-merta menghentikan aliran asap lintas batas,” ungkap Mohd Hisham kepada Malay Mail.
Menurutnya, partisipasi deposisi basah oleh hujan hanya menyapu partikel pencemar di udara secara temporer. Kabut asap akan kembali terbentuk apabila suplai asap dari titik hotspot di Sumatra dan Kalimantan terus bertiup ke arah wilayah udara Malaysia.
Penjelasan tersebut diperkuat oleh Guru Besar Meteorologi Universiti Malaya, Prof. Datuk Azizan Abu Samah. Ia menyebutkan bahwa arah angin bertiup dari sektor selatan, barat daya, dan barat secara konsisten membawa polutan asap ke daratan Malaysia.
“Proses deposisi basah akibat hujan memang efektif membersihkan partikel di atmosfer secara lokal. Namun, selama angin membawa massa asap baru dari Sumatra, kualitas udara akan kembali memburuk,” tegas Prof. Azizan.
Dampak kabut asap ini kian meresahkan masyarakat. Selain menurunkan jarak pandang dan kualitas udara pada tingkat tidak sehat, situasi ini juga mengancam kesehatan publik serta menyebabkan penutupan sementara di sejumlah institusi pendidikan. (red; TIM)


