
SUAKA – KOTABARU. Angin lembut Siring Laut berpadu dengan semangat yang membara pada Sabtu malam, 24 Oktober 2026. Panggung Apung Siring Laut menjadi saksi berlangsungnya Baku Sikat Fight, sebuah gelaran yang mempertemukan keberanian dan sportivitas di tengah masyarakat Bumi Saijaan. Kegiatan ini terselenggara berkat dukungan penuh dari Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Kotabaru.
Suasana malam itu terasa semakin hangat dengan kehadiran para pejabat daerah dan para pendamping acara. Hadir di antaranya, Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Kabupaten Kotabaru, H. Murdianto. Turut hadir Kabag Ops, Kompol Koes Adi Dharma, S.S.T.Pel., serta Kepala Bidang Pertunjukan, Event, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Disparpora Kabupaten Kotabaru, H. Rudi Nugraha BS., beserta tamu undangan lainnya.

Dengan dedikasi dan ketelatenan yang luar biasa, Yordan Ramon, S.Sos. selaku Head Team Baku Sikat Fight bersama seluruh panitia telah mempersiapkan gelaran ini dengan penuh hati. Baku Sikat Fight hadir bukan sekadar sebagai ajang pertandingan, melainkan sebuah panggung kebanggaan – tempat para atlet lokal menampilkan bakat terbaik mereka, mengasah kemampuan, dan membuktikan bahwa semangat tak pernah mengenal batas.
Ajang ini bermula dari keinginan tulus para pelatih dan klub bela diri di Kotabaru untuk bersatu. Berbagai cabang yang biasanya berjalan sendiri, kini bergabung dalam satu wadah yang dinamakan Sai Bintar Camp. Tempat latihan yang sederhana di libur raya ini menjadi rumah bersama, di mana anak – anak muda belajar tidak sekadar bertanding, tetapi juga saling menghargai.
“Kami menyatukan berbagai aliran bela diri ke dalam satu aturan main yang aman dan khas milik kita sendiri. Tidak meniru daerah lain – aturannya kami susun di sini, untuk anak – anak Kotabaru,” ungkap Yordan Ramon.

Tujuannya sederhana namun besar, membina bibit atlet dari awal. Dari enam puluh dua petarung yang tampil malam ini, nanti akan dipilah dan disalurkan ke berbagai cabang resmi – mulai dari kickboxing, muay thai, savate, sambo, hingga tinju dan boxing. Baku Sikat Fight menjadi jembatan yang menghantarkan bakat – bakat muda menuju jalur prestasi yang lebih terarah.
Perjalanan ajang ini pun telah menempuh jalan yang panjang. Sejak Desember lalu, enam putaran pertandingan telah digelar – dari Kotabaru, Limbur Raya, Pagatan Tanah Bumbu, hingga Banjarmasin. Bahkan peserta dari Kalimantan Tengah pun ikut meramaikan. Semangat inilah yang membuat Baku Sikat Fight kini dikenal bukan sekadar di satu daerah, melainkan semakin luas, meski segala sesuatunya dikelola secara mandiri dengan dukungan seadanya dari Pemerintah Daerah melalui Disparpora.
Dan kabar yang paling menggembirakan: mulai tahun depan, setiap juara akan dipersembahkan sabuk kebanggaan. Ada kategori untuk anak usia sekolah dasar dan menengah, serta kategori remaja dan dewasa. Sabuk itu bukan sekadar benda – ia adalah simbol bahwa usaha, latihan, dan keberanian dihargai, dan juara hari ini akan mempertahankan sabuknya di pertandingan berikutnya. Sebuah liga yang tumbuh perlahan, namun pasti, dari hati masyarakat sendiri.
“Kami ingin menciptakan ruang yang aman, di mana siapa pun punya tempat untuk berkarya dan berprestasi. Baku Sikat Fight adalah milik kita semua,” tambah Yordan dengan senyum bangga.
Sementara itu, Kepala Bidang Pertunjukan, Event, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Disparpora Kabupaten Kotabaru, H. Rudi Nugraha BS., melihat peluang yang lebih luas dari keberadaan ajang ini.
“Ini adalah salah satu sedikit di Kalimantan Selatan yang mampu mendatangkan penonton dengan sistem tiket berbayar. Artinya, kegiatan ini sudah bisa menghidupi orang – orang yang terlibat di dalamnya. Itulah hakikat ekonomi kreatif – dari hobi dan bakat, lahir nilai ekonomi yang nyata,” ungkapnya.

Jika dari sisi olahraga, Baku Sikat Fight berfungsi sebagai ladang pencarian bibit atlet berbakat. Namun dari sisi ekonomi kreatif, ia memiliki fungsi lain yang tak kalah penting, menghasilkan pendapatan bagi masyarakat. Kuncinya ada pada pengemasan.
“Kita bisa berkolaborasi dengan seni pertunjukan, seni tari, digital kreatif, dan subsektor lainnya agar semakin menarik. Orang rela datang dan membayar untuk menonton – tiket reguler saja sudah banyak diminati, dan itu baru permulaan,” tambahnya.
Ke depannya, pihaknya akan berkomunikasi lebih lanjut dengan bidang olahraga untuk melihat kemungkinan Baku Sikat Fight juga masuk ke dalam kategori olahraga rekreasi. Langkah ini diharapkan semakin memperluas jangkauan ajang ini, tak hanya di Kotabaru, tetapi terbuka lebar ke seluruh Kalimantan Selatan hingga ke luar daerah.
“Belum dikemas sepenuhnya dengan baik, belum ditambah hiburan lainnya, dan baru satu hari pelaksanaan – tapi antusiasme sudah luar biasa. Bayangkan jika dikelola secara lebih matang. Baku Sikat Fight punya segalanya untuk tumbuh: semangat atlet, dukungan masyarakat, dan nilai ekonomi yang nyata. Tinggal kita satukan tangan untuk mewujudkannya,” harapnya.
Semoga ke depannya, Baku Sikat Fight terus tumbuh dan berkembang, menjadi cahaya yang menginspirasi anak – anak muda Kotabaru untuk selalu berani bermimpi dan berjuang dengan sepenuh hati. (red)
Dibaca 1 kali.