
SUAKA – KOTABARU. Rabu 4 Nopember 2026, Di tengah semangat pembangunan yang terus berjalan di berbagai penjuru negeri, industri semen nasional tetap menapaki jalur pertumbuhan yang positif. PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. mencatat kinerja yang membanggakan hingga akhir September 2026, di mana permintaan semen domestik tercatat tetap kuat dan tumbuh 7,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan ini terasa merata di seluruh lini produk: semen curah naik 9,3 persen dan semen kantong meningkat 7,4 persen. Cuaca yang relatif kering turut mempercepat berjalannya berbagai proyek konstruksi di berbagai daerah, sehingga kebutuhan akan bahan bangunan tetap berjalan baik.
Indocement sendiri berhasil membukukan kenaikan volume penjualan sebesar 7,8 persen secara tahunan, dengan segmen semen curah tumbuh paling pesat hingga 12,6 persen, sementara semen kantong tumbuh 5,9 persen. Pangsa pasar semen domestik Perseroan mencapai 29,3 persen. Secara keseluruhan, total volume penjualan semen dan klinker mencapai 15,75 juta ton, naik 9,0 persen, didukung penjualan domestik yang tumbuh 7,6 persen dan ekspor yang melonjak 55,9 persen.
Peningkatan kinerja ini turut mendorong pendapatan bersih Perseroan naik 8,9 persen menjadi Rp14.070,8 miliar, dengan laba neto yang tumbuh 22,5 persen menjadi Rp1.301,9 miliar. Posisi keuangan pun tetap terjaga kokoh, dengan kas dan setara kas mencapai Rp4,7 triliun per akhir September 2026.
Hadir di Kalimantan Selatan, tepatnya di Kabupaten Kotabaru, Pabrik Tarjun milik Indocement turut berkontribusi dalam memenuhi kebutuhan semen di kawasan Kalimantan dan sekitarnya. Bersama 13 pabrik lainnya yang tersebar di Jawa, Sulawesi, dan Kalimantan, Indocement kini memiliki total kapasitas produksi tahunan sebesar 33,5 juta ton, didukung sekitar 4.100 tenaga kerja yang berdedikasi.
Di tengah pencapaian yang menggembirakan ini, Perseroan tetap menyadari adanya tantangan, antara lain tingginya biaya energi dan pergerakan nilai tukar mata uang asing. Musim hujan yang akan datang juga berpotensi memperlambat laju konstruksi. Oleh karena itu, peningkatan efisiensi dan pemanfaatan bahan bakar alternatif terus dilakukan agar kinerja tetap berkelanjutan dan dapat terus melayani kebutuhan pembangunan masyarakat Indonesia dengan sebaik-baiknya. (red)
