
suarakalimantan.com; Banjarmasin. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berjalan saat ini dinilai salah sasaran dan mubazir anggaran, Seharusnya kebijakan MBG di salurkan ke daerah yang masyarakatnya tergolong menengah kebawah. Hal demikian di sampaikan langsung oleh pengamat kebijakan publik dari Lembaga Kerukunan Masyarakat (LEKEM) Kalimantan, Muhammad Rodli Khoiriyanto kepada sejumlah awak media di kantornya Sungai Andai Komp. Perdana Mandiri Banjarmasin, Kamis, (12/03/2026).
“Wajarlah saya mengkritik program MBG ini karena terindikasi adanya korupsi berjamaah, kan ini adanya memotong anggaran pendidikan, kurang regulasi, dan sangat berpotensi menimbulkan korupsi. Sebaiknya ada pengawasan khusus berkaitan pelaksanaan program MBG ini,” kata Mang Odi panggilan akrabnya Muhammad Rodli Khoiriyanto.
Laki-laki energik ini berharap, progran MBG yang sudah berjalan wajib di evaluasi agar bantuan tepat sasaran pada kelompok rentan yang benar-benar berhak mendapatkannya.
“Data yang kami dapatkan penyaluran program MBH untuk anak sekolah saya lihat sangat tidak sesuai dengan anggaran yang ada. Kami lihat di salah satu SMP di Banjarmasin saja, masa anak dapat MBG di dalam kantong plastik yang isinya satu biji telor, satu bungkus kecil kacang dan kue serta empat biji buah anggur yang nilainya paling banyak sekitar Rp7ribuan saja,” ujarnya.
Menurut mang Odi, rincian anggaran bahan makanan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) per Februari 2026 untuk anak-anak SD, SMP, SMA/SMK, serta ibu hamil dan menyusui sebesar sepuluh ribu rupiah.
“Nilai Rp10.000 MBG itu hanya nilai makanan, bukan termasuk biaya operasional dan sewa fasilitas. Kalau di kalkulasikan keseluruhan MBG perporsi itu mencapai Rp15.000 dari Rp223,5 triliun dana APBN 2026 untuk 82,9 juta penerima”, tegasnya.
Program inipun dianggap kurang prioritas pada wilayah dengan tingkat stunting tinggi, dan lebih banyak menyasar daerah padat penduduk yang secara ekonomi lebih baik.
“Seharusnya, program MBG ini diprioritaskan bagi anak dari keluarga tidak mampu, daerah tertinggal, dan daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal), bukan daerah yang masyarakatnya memiliki nilai ekonomis tinggi,” tutur mang Odi.
Selain itu pula lanjut mang Odi, menu MBG yang di sajikan bukan menu 4 Sehat 5 Sempurna. Menu makanan bergizi tersebut harus seimbang yang terdiri dari makanan pokok (karbohidrat), lauk-pauk (protein/lemak), sayuran (vitamin/mineral), buah-buahan, dan susu sebagai pelengkap.
“Karena MBG yang di sajikan saat ini tidak sesuai standar menu 4 Sehat 5 Sempurna, maka sebaiknya kebijakan harus di rubah bukan berupa makanan lagi, supaya lebih bermanfaat sebaiknya diserahkan berupa uang saja sesuai anggaran yang diterapkan oleh pemerintah,” tukasnya. (dany)