
Oleh: Halizaroh Zulqiah, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang
SUAKA – MALANG 10 Januari 2026 – Seiring dengan perkembangan era digital yang membuka peluang tak terbatas bagi industri kreatif, peran perguruan tinggi sebagai lembaga pendidikan dan penelitian semakin krusial dalam menggerakkan pertumbuhan sektor ini di tingkat lokal. Sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang secara aktif terlibat dalam berbagai program pengembangan industri kreatif kampus, saya menyadari bahwa institusi pendidikan memiliki peran yang tak tergantikan dalam menjembatani talenta kreatif dengan kebutuhan pasar dan membangun ekosistem yang berkelanjutan.
UMM sendiri telah menunjukkan komitmen yang kuat terhadap pengembangan industri kreatif Malang melalui berbagai inisiatif konkrit. Salah satunya adalah pembentukan Pusat Pengembangan Ekonomi Kreatif (P2EK) yang menjadi wadah kolaborasi antara akademisi, pelaku industri kreatif, dan pemerintah daerah. Melalui pusat ini, kampus menyelenggarakan berbagai program, mulai dari pelatihan desain produk, manajemen usaha kreatif, hingga strategi komunikasi digital yang disesuaikan dengan kebutuhan sektor lokal seperti kerajinan tembikar Kasongan, batik Malang, dan industri konten kreatif muda.
Dalam mata kuliah Komunikasi Ekonomi Kreatif yang saya tempuh, kami diajarkan bukan hanya tentang teori, tetapi juga langsung terlibat dalam proyek nyata dengan pelaku kreatif lokal. Misalnya, beberapa teman dan saya baru-baru ini membantu kelompok pengrajin tembikar untuk mengembangkan strategi branding dan konten media sosial yang lebih menarik, serta melakukan uji pasar produk baru yang telah diformulasikan bersama dengan dosen dari Fakultas Desain dan Kreatif. Hal ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan pelaku industri tidak hanya sebatas diskusi, melainkan bisa menghasilkan output yang berdampak langsung pada peningkatan daya saing produk lokal.
Selain itu, UMM juga mengembangkan program Inkubator Usaha Kreatif yang memberikan pendampingan penuh bagi mahasiswa dan masyarakat yang ingin memulai usaha di sektor kreatif. Program ini tidak hanya memberikan pelatihan, tetapi juga akses ke sumber daya seperti peralatan produksi, ruang kerja bersama, serta kemungkinan untuk mendapatkan pendanaan dari mitra industri atau program pemerintah. Sebagai bagian dari kelompok studi yang mengawal beberapa usaha inkubasi ini, saya melihat bagaimana banyak ide kreatif yang awalnya hanya konsep bisa berkembang menjadi bisnis yang mampu menghasilkan pendapatan dan menyerap tenaga kerja.
Namun, tantangan masih ada. Salah satunya adalah bagaimana menjaga keberlanjutan program-program ini agar tidak hanya berjalan dalam jangka pendek. Selain itu, perlu adanya sinkronisasi yang lebih baik antara kurikulum akademik dengan kebutuhan aktual industri kreatif, sehingga lulusan perguruan tinggi bisa langsung berkontribusi secara efektif. Sebagai mahasiswa ilmu komunikasi, saya juga melihat bahwa masih kurangnya kemampuan untuk menyebarkan cerita sukses industri kreatif lokal ke pasar yang lebih luas – hal yang menjadi fokus utama dalam pengembangan materi kuliah dan kegiatan praktikum kami.
Peran perguruan tinggi dalam pengembangan industri kreatif tidak hanya sebatas pemasok talenta dan penyedia pelatihan. Lebih dari itu, kami berperan sebagai fasilitator kolaborasi, peneliti yang mengidentifikasi masalah dan solusi, serta agen perubahan yang membantu membangun ekosistem kreatif yang inklusif dan berkelanjutan. Dengan dukungan yang tepat dari semua pemangku kepentingan, perguruan tinggi bisa menjadi motor penggerak yang membawa industri kreatif Malang tidak hanya bersaing di pasar nasional, tetapi juga menunjukkan eksistensi di kancah internasional. (red)